Food Agriculture and Well-being: A Comparison Between Japan and Indonesia

Program Studi Pascasarjana Ilmu Gizi IPB University menggelar kuliah umum dengan topik “Food Agriculture and Wellbeing: A Comparison Between Japan and Indonesia“. Acara ini dilaksanakan secara hybrid. Pelaksaanaan secara luring dilakukan di Ruang Seminar Pasca FEMA – IPB University, dan daring melalui ZOOM meeting. Acara ini menghadirkan pembicara Prof. Dr. Mariko Arata dari College of Gastronomy Management, Ritsumeikan University, Japan; Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, M.S. (Guru Besar IPB University) sebagai moderator, serta turut hadir Prof. Dr. Ir. Ikeu Tanziha, M.S (Guru Besar Ilmu Gizi IPB University) dan 139 mahasiswa Pascasarjana Ilmu Gizi dan Program Studi Profesi Dietisien IPB University.

Pada kuliah umum ini Prof. Mariko menyampaikan topik yang berkaitan dengan Makan sebagai Perilaku Budaya; Kaitan Asam Urat dan Sayur-sayuran; serta Tanaman Pokok dan Makanan Pokok di Jepang maupun di Indonesia dan Kaitannya dengan Budaya. Prof. Mariko menyampaikan, “Pilihan makanan seseorang ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar aspek gizi, karena erat terkait dengan identitas budaya dan sosial. Ketika seseorang tidak dapat mengakses atau mengonsumsi makanan yang sesuai dengan preferensi budaya atau kebiasaan pribadi, hal ini dapat berdampak pada kepuasan dan kesejahteraan mental mereka, meskipun asupan gizi yang diterima terbilang mencukupi secara kebutuhan.”

Ia juga menjelaskan bahwa makanan pokok sendiri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan total gizi suatu populasi. Pentingnya variasi dalam jenis makanan yang dikonsumsi. Selain itu, makanan pokok cenderung beradaptasi dengan baik terhadap kondisi pertumbuhan di wilayah asalnya. Di Indonesia, makanan pokok bervariasi meliputi nasi, pisang, singkong, sagu, serta berbagai jenis umbi-umbian. “Hal ini menggambarkan keragaman konsumsi makanan pokok yang ada dan pentingnya memperhatikan variasi makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi secara menyeluruh,” jelas Prof. Mariko.

“Pentingnya faktor budaya dalam pola makan tidak dapat dipungkiri. Transformasi makna makanan sebagai hasil dari perubahan sosial mampu memicu perubahan preferensi dan kebiasaan makan secara signifikan. Contohnya, di Jepang, penyebaran kebiasaan makan daging merajalela secara cepat di bawah pengaruh Barat selama periode Meiji (1868-). Pasca Perang Dunia II, roti meraih peran penting sebagai makanan pokok dalam makan siang sekolah di Jepang berkat pengaruh kebijakan Amerika Serikat. Saat ini, roti dapat menggantikan nasi putih dalam komposisi menu Jepang, terutama dalam hidangan makanan barat atau saat sarapan.”

Pada kesempatan ini juga disampaikan bahwa edukasi gizi berdasarkan penemuan riset terkini; disoroti perlunya integrasi solusi-solusi yang mengadopsi pendekatan budaya pangan lokal. Pendekatan ini diusulkan guna menjaga keselarasan dan mendukung kearifan pangan setempat yang telah dihargai di berbagai daerah, tanpa menimbulkan benturan nilai.

Menurut Profesor Mariko, dalam pertimbangan terhadap budaya pangan, penting untuk mempertimbangkan kategorisasi, nilai-nilai budaya, sistem pangan, serta hubungan sosial. Ia menegaskan bahwa budaya tidak statis dan senantiasa berubah seiring dengan dinamika politik, ekonomi, sosial, dan lingkungan. “Dalam konteks ini, perlu menjaga tindakan kita agar masyarakat dapat meraih kesejahteraan di masa depan,” jelasnya. (SAR/AHM)